The 8 Habit dan 8 Etos

Stephen Covey mengejutkan saya. Buku The 8th Habit menampilkan suara sebagai inti keagungan. Ini konsep kuno warisan Martin Luther dari abad ke-16, yang mengajarkan pekerjaan sebagai panggilan (Beruf). Orang harus bertekun dalam panggilan itu sebab demikianlah kehendak Tuhan.

Menurut Max Weber (1905), inilah elemen etos ekonomi yang terlibat dalam proses keberjayaan dunia Barat. Menurut kamus Oxford, suara yang memanggil, vocare (Latin), menjadi vocation (Inggris), berarti pekerjaan. Tak bisa lain, vocation harus dimaknai secara lengkap: bekerja adalah sabda ilahi. Jadi, keterangan sosiologi ekonomi cocok dengan kamus. Singkatnya, jika panggilan (suara, titah, sabda) ilahi itu ditanggapi penuh gairah melalui akal budi, khususnya nurani, dalam konteks kerja, ia akan terpantul menjadi suara jiwa kita yang unik dan mendesak diekspresikan. Buahnya ialah keunggulan dan kejayaan.

Dalam bahasa Covey: temukanlah suaramu, lalu ilhami lah orang lain menemukan suaranya! Itulah habit ke-8. Itulah suara jiwa: melodi spiritual talenta, kegairahan, nurani, dan kebutuhan kita. Jika orang menemukan lalu mengekspresikan suara jiwanya, ia akan bergemilang. Dan, jika pemimpin menolong setiap warganya menemukan suaranya, keseluruhannya akan menjadi organisasi yang gemilang. Dimampatkan, begitulah argumentasi Covey.

Secara fenomenologis teramati bahwa semua orang ingin menjadi orang besar, paling tidak, bagian dari yang serba besar. Buat saya, itulah penjelasan mengapa manusia selalu bernafsu tinggi pada apa saja yang besar-besar: rumah besar, mobil besar, dan gaji besar; dan pada kategori lain, perusahaan unggul, partai unggul, dan tentu saja: negara unggul! Pokoknya, manusia tidak puas dengan yang kecil-kecil, biasa-biasa, atau sedang-sedang.

Sebagai nilai, greatness (kejayaan, kemegahan, keagungan) telah menjadi poros budaya semesta yang menggerakkan manusia untuk meraih atau menciptakannya. Evolusi budaya telah berhasil menanamkan greatness menjadi semangat utama di hati manusia, bahkan menjadi pilar spiritualitasnya. Secara religius, ini setara dengan pengabdian manusia tiada henti pada atribut keilahian, seperti kesucian, keakbaran, dan kebenaran. Manusia selalu terpesona pada obyek-obyek besar, seperti gunung, samudra, atau langit. Bukan kebetulan, ketiganya juga merupakan metafora kebesaran ilahi. Jadi, di tingkat rohani, jiwa manusia selalu merindu pada keagungan. Jelasnya, hati manusia belum merasa puas tuntas hingga akhirnya ia menemukan, mengalami, atau berjumpa dengan keagungan itu.

Dalam konteks inilah The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness menjadi relevan sebab penulisnya menjanjikan kitab itu sebagai roadmap menelusurinya, vade mecum menjalaninya, dan secara khusus: strategi bagi para CEO untuk mentransformasikan organisasi mereka ke tingkat akbar. Covey mengerti dan berempati dengan dahaga jiwa manusia akan kejayaan. Dan, ia menjawabnya dengan solusi.

Secara fisik, buku ini berukuran jumbo, dalam edisi Indonesia tebalnya lebih dari 600 halaman, tetapi juga besar karena ia sarat dengan pikiran-pikiran akbar. Peluncuran buku ini pun, Rabu (30/11), sangat megah untuk acara sejenis. Dihadiri sekitar 2.000 orang, yang membayar jutaan untuk mendengar ceramah Covey sekitar 200 menit, Presiden Yudhoyono sendiri berkenan menyambutnya sambil membuhul tekad agar bangsa kita pun segera membangun budaya unggul supaya negeri ini bisa menyusul Malaysia, India, atau China.

Buku ini hebat karena sejarah pendahulunya The 7 Habits of Highly Effective People (1989) memang hebat: berstatus mega-bestseller, terjual 15 juta eksemplar dalam 15 tahun saja. Bandingkan dengan rivalnya: How To Win Friends and Influence People (Dale Carnegie, 1936) yang baru mencapainya sesudah 60 tahun. Menurut Wikipedia, cuma ada tiga buku sejenis yang mengungguli keduanya: The Power of Positive Thinking (Norman Vincent Peale, 1952), Think and Grow Rich (Napoleon Hill, 1937), dan The Greatest Salesman in the World (Og Mandino, 1974), masing-masing terjual 20 juta, 30 juta, dan 50 juta eksemplar. Semuanya kini dianggap sebagai karya klasik dalam literatur sukses.

Guru-guru sukses di atas memiliki kesamaan: sangat inspiratif, kaya ilustrasi, dan menulis penuh pathos. Mereka mengakarkan pikiran-pikirannya pada khazanah spiritual. Bedanya, empat guru lain bicara pada tingkat pribadi saja dengan resep kiat-kiat praktis, sedangkan Covey bicara juga di tingkat organisasi dengan topangan konsep-konsep yang terstruktur amat baik. Lepas dari plus minusnya, jutaan orang mengaku telah diubahkan oleh ajaran guru-guru tersebut.

Berbeda dengan The 7 Habits, narasi The 8th Habit terasa berat, monoton, dan kering. Untunglah kita terbantu dengan banyak gambar: bagan, tabel, dan diagram. Jelas, Covey mengandaikan pembacanya dari kalangan manajer dan eksekutif puncak yang berkemampuan abstraksi di atas rata-rata. Covey juga tampak meniatkan buku ini menjadi semacam ensiklopedia ajaran-ajarannya, bahkan terasakan ambisi: ia mau merangkum semua teori sukses yang pernah ada sejak era Yunani purba.

Keunikan dan kekuatan buku ini, menurut saya, terletak pada koherensi konsep-konsep pengembangan manusia, kepemimpinan, dan organisasi yang dipilih dan diletakkannya pada sebuah bingkai yang disebutnya paradigma pribadi-utuh (whole-person paradigm): jiwa, tubuh, pikiran, dan hati. Paradigma ini menjadi kerangka semua narasi Covey secara konsisten dari awal hingga akhir. Dan, Covey begitu piawai meringkas dan memvisualkan narasinya dalam berbagai bentuk geometris (semuanya 57 gambar) yang bagus-bagus.

Bagi yang berniat menjadikan buku ini sebagai panduan, saya anjurkan membaca Bab 14 dan 15 dulu, sebab keseluruhan konsep besar Covey diringkaskan di sini. Intinya, untuk membangun greatness, harus dimulai dari ranah pribadi (personal greatness) dengan menerapkan the seven habits dalam bentuk visi, disiplin, antusiasme, dan nurani. Selanjutnya, ranah kepemimpinan (leadership greatness) dengan menerapkan empat peranan kepemimpinan ala Covey: panutan dalam the seven habits, perintis jalan ke kegemilangan, penyelaras semua elemen organisasi, dan pemberdaya bagi segenap potensi warga organisasi. Terakhir, ranah organisasi (organizational greatness) dengan perumusan visi, misi, dan nilai-nilai pokok organisasi yang membuahkan kejelasan, komitmen, sinergi, pemampuan, dan akuntabilitas. Jika semua ini dijalankan simultan, janji Covey, maka terciptalah kinerja unggul secara berkelanjutan, dan di ujung sana: kejayaan dan kegemilangan.

Covey memang seorang humanis spiritual yang serba optimistis, dalam arti pemercaya penuh pada potensi nilai dan kebaikan manusia, peyakin teguh akan kebutuhan manusia yang universal, dan pejuang gagah bagi cara-cara rasional memecahkan masalah-masalah kemanusiaan. Covey melihat kondisi pengap iklim organisasi adalah sumber dari begitu negatifnya sikap, rapuhnya emosi, buruknya keterampilan, atau rendahnya motivasi manusia di ruang kerjanya yang berakibat pada buruknya kinerja dan produktivitas mereka. Itulah yang harus diperbaiki. Mulai dari para pemimpin: menata paradigma dan tujuan, merumuskan peran, relasi, dan prioritas kerja, serta mengeksekusinya tuntas dengan mengerahkan segenap bakat, talenta, dan kecerdasan. Covey percaya, jika hal-hal ini dilakukan, benih-benih keagungan manusia akan tumbuh-mekar berbuah-lebat di lahan subur organisasi. Sambil mengisahkan tapak-tapak panjang sejarah korporasi yang kelabu sejauh ini, Covey menawarkan resep memperbaiki kesalahan-kesalahan itu seraya merambah jalan baru menuju keunggulan.

Tatkala warga negeri ini masih banyak yang terjebak dalam dilema klasik kemanusiaan universal: mau bahagia tetapi gemar mengeluh; mau dipercaya tetapi tak sanggup menjaga amanah; mau berkilau tetapi tak tahan dikritik; mau terpilih tetapi emoh melayani; mau menabung tetapi gemar bergaya hidup boros; mau pintar tetapi malas belajar — yang berdampingan rapat dengan kenyataan begitu banyaknya manusia-manusia berjiwa kerdil, berintelek kurus, bermental keropos, dan berkesadaran rendah — maka kehadiran buku Covey ini perlu disimak serius. Yang jelas, kita semua harus menjawab panggilan Suara Agung tersebut: itulah panggilan Suara Tuhan, Suara Rakyat, dan Suara Ibu Pertiwi yang terus merintih demi kemaslahatan seluruh anak negeri. Apabila memekakkan telinga terus, kita masih akan terus terpuruk untuk jangka waktu yang masih panjang. Amit-amit deh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: